Video Pendek kini menjadi salah satu bentuk konsumsi digital paling dominan, tetapi riset terbaru menunjukkan bahwa pola penggunaan yang berlebihan dan cenderung adiktif dapat berkaitan dengan melemahnya indikator neural yang mengatur perhatian. Temuan ini muncul dalam studi berjudul Mobile phone short video use negatively impacts attention functions: an EEG study, yang diterbitkan di Frontiers in Human Neuroscience pada 27 Juni 2024 dengan DOI 10.3389/fnhum.2024.1383913.

Riset tersebut tidak menyatakan bahwa Video Pendek pasti merusak otak secara permanen. Namun, peneliti menemukan hubungan negatif antara kecenderungan kecanduan Video Pendek di ponsel dan aktivitas theta frontal saat otak harus mengendalikan konflik perhatian. Dengan kata lain, semakin tinggi kecenderungan penggunaan yang adiktif, semakin rendah respons neural yang berkaitan dengan kontrol eksekutif perhatian.

Video Pendek Dan Tantangan Baru Bagi Sistem Perhatian

Video Pendek bekerja dengan pola yang sangat kuat menarik fokus manusia. Kontennya cepat, emosional, mudah dikonsumsi, dan terus berubah. Algoritma juga mendorong pengguna menerima rangsangan baru secara berulang tanpa harus melakukan usaha kognitif besar.

Dalam konteks neurosains, pola ini penting karena perhatian bukan sekadar kemampuan melihat atau mendengar sesuatu. Perhatian melibatkan sistem otak yang mengatur kesiagaan, pemilihan stimulus, pengendalian impuls, dan kemampuan menyelesaikan konflik kognitif.

Video Pendek Menguji Executive Control

Bagian paling penting dari riset ini adalah executive control. Fungsi ini bekerja ketika seseorang harus menahan distraksi, memilih informasi yang relevan, dan mengabaikan gangguan yang tidak perlu.

Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan Attention Network Test atau ANT. Peserta diminta melihat stimulus berupa panah di layar, lalu menentukan arah panah utama. Pada kondisi tertentu, panah di sekitar stimulus utama mengarah ke arah yang berbeda. Kondisi ini menciptakan konflik perhatian dan menuntut kerja executive control.

Temuan utamanya cukup jelas. Skor kecenderungan kecanduan Video Pendek berkorelasi negatif dengan theta power di area frontal saat kondisi konflik, yaitu incongruent dibanding neutral. Korelasinya tercatat r = -0,395 dengan p = 0,007 pada data EEG dari 45 peserta.

Maknanya, orang dengan kecenderungan adiktif lebih tinggi terhadap Video Pendek menunjukkan respons theta frontal yang lebih rendah saat otak perlu menghadapi gangguan kognitif. Ini bukan bukti sebab akibat, tetapi menjadi sinyal bahwa pola konsumsi digital tertentu berkaitan dengan sistem kontrol perhatian yang lebih lemah.

Mengapa Frontal Theta Menjadi Kunci

Gelombang theta, terutama di area frontal, sering dikaitkan dengan kontrol kognitif, deteksi konflik, pengambilan keputusan, dan pengendalian respons otomatis. Dalam banyak tugas kognitif, aktivitas theta frontal meningkat ketika otak harus bekerja lebih keras untuk menyelesaikan konflik.

Karena itu, penurunan respons theta frontal pada kelompok dengan skor kecenderungan kecanduan Video Pendek lebih tinggi menjadi temuan penting. Peneliti menilai pola ini dapat mencerminkan berkurangnya sumber daya kognitif untuk mengelola konflik perhatian.

Namun, interpretasi ini tetap harus hati hati. EEG menangkap aktivitas listrik otak dengan presisi waktu yang baik, tetapi tidak langsung membuktikan perubahan struktural atau kerusakan permanen. Studi ini lebih tepat dibaca sebagai bukti hubungan antara kebiasaan digital adiktif dan indikator neural executive control.

Riset EEG Menunjukkan Perbedaan Yang Tidak Selalu Terlihat Dari Perilaku

Studi ini melibatkan 48 peserta sehat, terdiri dari 35 perempuan dan 13 laki laki, dengan rata rata usia 21,8 tahun. Seluruh peserta merupakan pengguna aplikasi Video Pendek di ponsel. Untuk analisis EEG, data tiga peserta dikeluarkan karena tidak mengikuti instruksi perekaman dengan baik, sehingga analisis utama memakai 45 peserta.

Peneliti tidak hanya memakai EEG. Mereka juga menggunakan beberapa kuesioner, termasuk Mobile Phone Short-Form Video Addiction Tendency Questionnaire atau MPSVATQ, Self Control Scale atau SCS, Attention Control Scale atau ACS, dan Internet Addiction Test atau IAT.

Video Pendek Berkaitan Dengan Self-Control Lebih Rendah

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa skor kecenderungan kecanduan Video Pendek berkorelasi positif dengan skor adiksi internet. Korelasi MPSVATQ dengan IAT tercatat r = 0,390. Artinya, peserta dengan kecenderungan penggunaan Video Pendek yang lebih adiktif juga cenderung memiliki skor adiksi internet lebih tinggi.

Selain itu, MPSVATQ berkorelasi negatif dengan self-control. Nilainya r = -0,320 dengan p = 0,026. Dengan bahasa sederhana, semakin tinggi kecenderungan adiktif terhadap Video Pendek, semakin rendah skor pengendalian diri yang dilaporkan peserta.

MPSVATQ juga berkorelasi negatif dengan attention control, dengan nilai r = -0,310. Temuan ini memperkuat gambaran bahwa isu Video Pendek bukan hanya soal durasi layar, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mengatur fokus dan perilaku.

Performa Tes Tidak Selalu Menunjukkan Masalah

Salah satu bagian menarik dari studi ini adalah hasil perilaku ANT tidak menunjukkan korelasi signifikan dengan skor kecenderungan kecanduan Video Pendek. Artinya, dari sisi waktu reaksi dan akurasi, peserta dengan skor lebih tinggi belum tentu tampak lebih buruk dalam tugas tersebut.

Namun, EEG menunjukkan pola berbeda. Aktivitas otak saat menghadapi kondisi konflik justru menunjukkan hubungan signifikan. Ini penting karena perubahan neural dapat muncul lebih dulu sebelum terlihat sebagai penurunan performa perilaku.

Peneliti juga menjelaskan kemungkinan bahwa tugas ANT terlalu sederhana bagi peserta dewasa muda yang sehat. Mereka masih bisa menjawab dengan benar dan cepat, meski pola aktivitas otaknya berbeda. Dengan kata lain, performa luar tampak normal, tetapi proses internalnya bisa lebih rentan.

Makna Neurosains Untuk Kebiasaan Digital Modern

Video pendek

Video Pendek membawa bentuk stimulasi yang berbeda dari membaca panjang, belajar mendalam, atau bekerja fokus. Pengguna menerima visual baru, suara baru, emosi baru, kejutan baru, dan konteks baru dalam waktu sangat singkat.

Jika pola ini berlangsung terus menerus, otak dapat terbiasa dengan rangsangan cepat dan rendah usaha. Di sisi lain, aktivitas yang lebih lambat dan membutuhkan kontrol tinggi dapat terasa lebih berat, seperti membaca dokumen panjang, menulis, menganalisis data, atau menyimak pembicaraan kompleks.

Video Pendek Dan Risiko Distraksi Harian

Implikasinya tidak harus dibaca secara ekstrem. Video Pendek tidak otomatis berbahaya. Namun, pola konsumsi yang berlebihan, impulsif, dan sulit dihentikan dapat berkaitan dengan penurunan kualitas kontrol perhatian.

Dalam kehidupan sehari hari, pola ini bisa muncul sebagai kesulitan mempertahankan fokus, cepat bosan dengan informasi panjang, terdorong membuka ponsel saat bekerja, atau merasa sulit berhenti scrolling meski sudah berniat berhenti.

Riset ini juga menegaskan bahwa masalah perhatian tidak selalu terlihat sebagai kegagalan besar. Kadang, gangguannya muncul sebagai penurunan kecil dalam kemampuan mengatur diri, menahan impuls, dan mengalokasikan perhatian pada tugas yang lebih menuntut.

Batas Penting Yang Tidak Boleh Diabaikan

Studi ini bersifat korelasional. Karena itu, hasilnya tidak dapat memastikan apakah Video Pendek menyebabkan melemahnya executive control, atau orang dengan executive control lebih lemah lebih rentan mengalami penggunaan Video Pendek secara adiktif.

Ada pula kemungkinan hubungan dua arah. Penggunaan berlebihan dapat memperburuk kontrol perhatian, sementara kontrol perhatian yang lemah dapat membuat seseorang lebih mudah masuk ke pola konsumsi impulsif.

Peneliti juga mencatat sejumlah keterbatasan, termasuk jumlah peserta yang relatif kecil, komposisi gender yang tidak seimbang, dan rentang usia yang terbatas pada dewasa muda. Karena itu, riset lanjutan dengan sampel lebih besar, desain longitudinal, kelompok usia lebih beragam, serta metode neuroimaging seperti fMRI masih diperlukan.

Arah Intervensi Dan Edukasi Publik

Temuan ini memberi dasar bagi edukasi publik yang lebih seimbang. Pesannya bukan melarang semua orang menonton Video Pendek, melainkan memahami bahwa pola konsumsi digital perlu dikelola.

Peneliti menyebut kemungkinan intervensi seperti latihan mindfulness, peningkatan self-control, dan strategi pengurangan kecenderungan adiktif terhadap Video Pendek. Pendekatan ini relevan karena hasil studi menunjukkan hubungan negatif antara kecenderungan adiksi dan self-control.

Membangun Kebiasaan Digital Yang Lebih Terkendali

Dalam praktik sehari hari, pengguna dapat mulai dengan membatasi sesi scrolling, menghindari Video Pendek sebelum tidur, mematikan notifikasi yang memicu kebiasaan impulsif, dan memberi ruang khusus untuk aktivitas fokus tanpa ponsel.

Selain itu, penting untuk melatih kembali toleransi terhadap informasi panjang. Membaca artikel mendalam, belajar tanpa distraksi, mencatat ide, dan menyelesaikan pekerjaan satu per satu dapat membantu otak kembali terbiasa dengan ritme kognitif yang lebih stabil.

Dari sudut pandang pendidikan, orang tua, guru, dan pekerja profesional perlu memahami bahwa perhatian adalah kapasitas yang bisa terkikis oleh kebiasaan, tetapi juga bisa dilatih ulang melalui lingkungan, rutinitas, dan desain penggunaan teknologi yang lebih sadar.

Riset EEG tentang Video Pendek ini memperlihatkan bahwa kebiasaan digital modern tidak hanya memengaruhi waktu luang, tetapi juga berkaitan dengan cara otak mengelola fokus, konflik, dan pengendalian diri. Temuan tersebut perlu dibaca secara proporsional, sebab studi ini tidak membuktikan kerusakan otak permanen, tetapi memberi sinyal kuat bahwa penggunaan yang berlebihan dan sulit dikendalikan dapat berkaitan dengan melemahnya kontrol perhatian. Pembaca dapat melanjutkan eksplorasi isu neurosains, perilaku digital, dan kesehatan kognitif melalui artikel terkait di adaBrain.

adaBrain

adaBrain adalah platform neuroscience yang membantu orang memahami otak, emosi, dan potensi diri lewat sains dan edukasi.